Laman

Sabtu, 05 November 2011

Adakah Cara Aman Untuk Merokok?

no_smoking
Tembakau, dalam segala bentuk penggunaannya, telah menjadi epidemi tersendiri di dunia. Produk tembakau yang dimaksud di sini merupakan produk yang sebagian atau seluruhnya dibuat dari daun tembakau yang digunakan dengan cara diisap atau dikunyah. Semua produk tembakau ini mengandung nikotin, yakni suatu bahan psikoaktif yang sangat menimbulkan ketergantungan.
Masalah kesehatan terkait penggunaan tembakau memang tidak melulu memberikan efek segera, perlu waktu tahunan bahkan puluhan tahun sejak awal penggunaannnya. Sehingga jika secara global penggunaan tembakau meningkat, maka epidemik tembakau ikut meningkat dan bukan tidak mungkin akan mencapai puncaknya. Disadari atau tidak, epidemik tembakau ini telah menjadi permasalah kesehatan terbesar yang dihadapi oleh dunia.

Rokok sebagai salah satu produk tembakau tampaknya telah dilegalkan pengunaanya dan dapat diiklankan. Tak kurang ada peraturan pemerintah yang menyebutkan bahwa batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar pada sebatang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1,5 mg dan kandungan tar 20 mg. Namun, adakah batasan aman dalam konsumsi rokok?
Tidak ada batasan aman dalam hal yang sifatnya racun bagi tubuh. Ini disebabkan rokok mengandung sekitar 4000 bahan kimia berbahaya, lebih dari 60 di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker (karsinogenik). Nikotin merupakan komponen utama dalam rokok.
Ada tiga alasan mengapa nikotin dapat menimbulkan ketergantungan, yakni:
Ketika digunakan dalam jumlah sedikit, nikotin menciptakan perasaan nyaman yang membuat perokok ingin merokok lebih lagi.
Umumnya perokok menjadi ketergantungan nikotin dan mengalami penderitaan fisik dan psikologis ketika mereka mulai berhenti merokok. Gejalanya meliputi gugup, sakit kepala, dan gangguan tidur.
Nikotin mempengaruhi kimiawi otak dan sistem saraf pusat sehingga dapat mempengaruhi suasana hati dan sifat perokok.
Ketika rokok disulut, terjadi pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan sejumlah bahan kimia dalam asap rokok, diantaranya sianida, benzena, formaldehida, metanol, gas karbit (untuk mengelas), dan amonia. Asap rokok juga mengandung gas nitrogen oksida dan karbon monoksida yang beracun. Dapat dibayangkan berapa banyak racun yang masuk ke dalam tubuh saat Anda mengisap sebatang rokok.
Rokok berbahaya karena dapat merusak tubuh. Beberapa perokok mencoba mengakali kebiasaan merokok mereka dengan jalan mengurangi jumlah rokok yang diisap per harinya. Namun hasil penelitian mengungkapkan, mengisap 1-4 atau beberapa batang rokok per hari tetap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kemungkinan kematian pada usia muda.
Sebagian lain berpikir akan lebih aman jika mereka beralih mengisap rokok dengan kadar nikotin dan tar yang lebih rendah. Namun ini pemikiran yang keliru. Rokok rendah nikotin dan tar sama berbahayanya dengan rokok yang mengandung nikotin dan tar lebih banyak. Rokok rendah nikotin dan tar hanya akan membuat para perokok menghabiskan lebih banyak batang rokok untuk memenuhi dosis nikotin seperti sebelumnya.
Perokok beranggapan bahwa rokok rendah nikotin dan tar menurunkan risiko masalah kesehatan dan merupakan pilihan terbaik untuk mulai berhenti merokok. Pendapat ini juga keliru. Dengan rokok rendah nikotin dan tar, perokok akan mengisap rokoknya lebih dalam dan lebih sering. Tidak ada penelitian yang menyebutkan bahwa risiko kanker paru menurun pada mereka yang mengisap rokok rendah nikotin dan tar.
Demikian halnya dengan rokok mentol. Penambahan mentol akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan saat rokok diisap, juga dapat menurunkan refleks batuk dan rasa kering di tenggorokan yang umumnya dialami oleh perokok. Perokok mentol dapat mengisap rokok lebih dalam dan menahannya lebih lama karena adanya rasa nyaman tadi. Penelitian terbaru menyebutkan, perokok mentol lebih sedikit yang berusaha berhenti merokok dan lebih sedikit yang berhasil. Disarankan bagi perokok mentol mengganti rokoknya dengan rokok non-mentol sebelum mulai berhenti merokok.
Dalam bentuk dan cara penggunaan apapun, rokok (dan tembakau pada umumnya) tetaplah berbahaya. Sebagian perokok tentunya sudah mengetahui dan mungkin menyadari konsekuensi yang harus dibayar dengan memposisikan dirinya sebagai seorang perokok. Namun perkara berhenti merokok bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni. Sifat ketergantungan yang ditimbulkan oleh nikotin merupakan hal utama yang terlebih dahulu harus diatasi oleh setiap perokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar